Alat Navigasi Darat

  1.  Peralatan Navigasi Darat

Dalam kegiatan navigasi darat ada beberapa peralatan yang dibutuhkan, peralatan tersebut sangat menunjang keberhasilan dalam kegiatan navigasi. alat utama dalam kegiatan navigasi adalah peta dan kompas. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi peralatan navigasi darat pada saat sekarang ini semakin berkembang dan banyak memberikan kemudahan dalam kegiatan navigasi darat, seperti ; altimeter dan GPS (global positioning system). Peralatan lain yang dibutuhkan adalah busur derajat atau protactor.

2. Pengetahuan Peta

a. Peta

Secara umum, Peta merupakan suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang dilihat dari atas dan diperkecil dengan perbandingan tertentu serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya baik secara visual maupun secara matematis. Peta sendiri berfungsi sebagai alat peraga untuki memberi informasi yang kemudian berkembang sesuai kebutuhan dan penggunaannya.

b. Macam – Macam Peta

Sebenarnya ada banyak macam – macam peta yang dapat dibedakan menurut berbagai macam hal yang terdapat dalam peta dan kebutuhan atas peta tersebut, seperti ; informasi atau isi yang disajikan dalam peta, skala peta, tujuan dan penggunaan peta, luas cakupan daerah, proyeksi yang digunakan, gambar/simbol atau tanda dalam peta dan proses terjadinya. Karena tulisan ini bersifat pengenalan maka, hal – hal di atas tidak akan dibahas lebih lanjut. Tetapi, secara umum peta dapat dibedakan menjadi : 1.

c. Peta teknis

Peta yang dipergunakan untuk keperluan teknis, misalnya untuk perencanaan jalan, jembatan, irigasi, dsb. Peta ini menggunakan skala besar (1 : 10.000).

d. Peta topografi

Peta yang berisikan tentang perairan, vegetasi, relief muka bumi dan hasil budaya manusia. Peta topografi sering disebut peta umum, karena berisi tentang informasi secara keseluruhan yang lebih lengkap. Peta ini menggunakan skala sedang (1: 25.000; 1: 50.000; 1: 100.0000) kecuali telah diperbesar atau diperkecil.

e. Peta Ikhtisar/Peta Geografi/Peta Wilayah

Peta ini menggunakan skala kecil (1:250.000)

Untuk kepentingan kegiatan di alam bebas atau hutan dan gunung atau kegiatan navigasi darat lainnya, penggunaan peta ditekankan pada peta topografi.

3. Informasi Tepi Peta

Bagi pengguna yang belum terbiasa menggunakan peta, sebelum menggunakan peta atau melakukan interpretasi peta, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu informasi pada yang ada pada bagian tepi peta atau disebut informasi tepi peta. Pemahaman terhadap informanasi tersebut merupakan persyaratan utama dalam membaca dan menggunakan peta, sehingga fungsi peta tersebut menjadi maksimal dan optimal. Informasi peta tersebut terbagi menjadi informasi umum dan informasi khusus, tetapi untuk pengenalan cukup mengetahui beberapa informasi tepi peta tersebut, yaitu :

a. Judul Peta

Adalah identitas daerah yang tergambar pada peta, umumnya berupa nama daerah atau identitas alam yang paling menonjol atau terkenal, misalnya Peta Gunung Salak, Peta Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Peta Kabupaten Bogor, dsb. Judul peta terletak tepat ditengah bagian atas peta.

b. Keterangan Pembuatan

Adalah informasi mengenai pembuatan peta tersebut, yang diantaranya meliputi tahun pembuatan, nama instansi pembuat, sistem proyeksi yang digunakan dan keperluan pembuatan.

Di Indonesia, ada dua instansi resmi yang menerbitkan peta topografi untuk masyarakat umum, yaitu ;

Direktorat Geologi (Jl. Dipenogoro No. 57, Bandung, Jawa Barat)

Direktorat Geologi mengeluarkan beberapa seri peta topografi, antara lain :

Peta buatan Dinas Topografi Belanda (Topografische Diest, Batavia and Topografische Inlicthing, Batavia), hasil pemetaan pada tahun 1920-an.

Peta buatan US Amry Map Service, Far East (dikenal sebagai seri AMS), terbitan tahun 1960-an.

BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional), Cibinong, Jawa Barat. Menerbitkan peta topografi seri tersendiri yang dibuat tahun 1970-an dan merupakan peta berwarna.

c. Nomor Derajat

Menjelaskan nomor-nomor peta lain yang terdapat di sekitar peta yang digunakan. Hal ini akan mempermudah kita jika akan menggabungkan beberapa judul peta untuk tujuan tertentu. Nomor derajat terdapat di sisi kiri bagian bawah peta, dekat dengan keterangan pembuatan.

d. Nomor Peta

Yaitu nomor yang terdapat pada sisi kanan atas peta. Nomor ini merupakan nomor registrasi dari peta tersebut. Nomor yang ditulis dengan angka Arab menyatakan nomor kolom, sedang yang ditulis dengan angka Romawi menyatakannomor baris.

e. Sistem Koordinat

Adalah cara untuk menyatakan kedudukan suatu titik pada bidang datar, atau terhadap dua garis bilangan (ordinat dan aksis). Skala bilangan untuk menyatakan koordinat titik dicantumkan pada garis-garis tepi peta.

Sistem koordinat ada dua, yaitu sistem koordinat resmi dan tidak resmi.

sistem koordinat resmi

Sistem koordinat resmi yang biasa dipakai adalah :

Geographical Coordinate

Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dab BT) yang tegak lurus khatulistiwa (vertikal) dan garis lintang (LU dan LS) yang sejajar khatulistiwa (horizontal). Koordinat geografis dinyatakan dalam derajat, menit dan detik.

Grid Coordinate (UTM)

Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter) sebelah utara/selatan atau sebelah barat/timurdari suatu sumbu acuan.

Biasanya sistem koordinat resmi digunakan pada peta keluaran AMS, Bakosurtanal.

sistem koordinat tidak resmi

Selain sistem koordinat resmi di atas ada juga sistem koordinat tidak resmi yang biasa disebut sistem koordinat lokal. Alasan sistem koordinat ini dibuat adalah selain untuk membaca koordinat resmi agak sulit, juga peta yang biasa kita gunakan (peta buatan Dinas Topografi Belanda) biasanya tidak ada koordinatnya. Sistem ini pembuatannya tergantung dari keperluan, dan jarak antara garis-garis yang berpotongan (vertikal dan horizontal) bermacam-macam, biasanya berjarak 1 cm.

f. Skala

Skala adalah perbandingan antara jarak dua titik pada peta terhadap jarak dua lokasi yang diwakili oleh titik-titik tersebut di lapangan. Misalnya, skala 1:25.000 berarti jarak 1 cm pada peta sama dengan 25.000 cm (250 m) jarak horizontal di alam (ingat jarak horizontal bukan merupakan jarak sebenarnya di alam, terutama pada daerah-daerah yang curam/terjal). Skala merupakan unsur pertama yang harus diperhatikan dalam membaca peta. Skala peta dinyatakan tanpa harga satuan.

  • Skala peta dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
  1. skala besar/detail (1:10.000)
  2. skala sedang (1:25.000 – 1:100.000)
  3. skala kecil/ikhtisar (1:250.000)
  • Skala peta dapat dapat dinyatakan dalam :
  1. angka/fraksi/pecahan misal : 1:50.000, 1:25.000
  2. verbal/perkataan misal : 1 cm mewakili 250 m, 1 cm mewakili 50.000 cm
  • garis/grafis/gambar

Skala garis atau skala gambar dicantumkan dengan menggambarkan garis dengan jarak-jarak tertentu pada peta. Pemakaian skala garis pada peta yang telah diperbesar atau diperkecil relatif lebih menguntungkan, karena perubahan tersebut tidak mempengaruhi pembacaan skala yang tercantum.

f. Interval atau selang kontur

Menunjukan perbedaan tinggi antara dua kontur berurutan. Kadang digambarkan dengan garis-garis tertentu yang lebih tebal. Biasanya nilai interval setiap kontur tercantum di bawah peta, yang besarnya adalah setengah dari bilangan ribuan skala peta. Misalnya, jika sebuah peta memiliki skala 1:50.000, maka interval konturnya adalah 1/2000 x 50.000 = 25, yang umumnya dinyatakan dalam meter.

Rumus di atas tidak berlaku jika pada peta ada keterangan yang menyatakan besar harga interval konturnya (biasanya peta yang telah diperbesar atau diperkecil). Misalnya pada beberapa peta topografi buatan Belanda yang kemudian diterbitkan oleh Direktorat Geologi Bandung, aslinya berskala 1:50.000 dengan interval konturnya 25 m, tetapi kemudian diperbesar dua kali menjadi peta berskala 1:25.000 namun interval konturnya tetap 25 m. Dalam kegiatan gunung dan hutan, seringkali kita memperbesar atau memperkecil peta dengan mem-foto copy-nya. Untuk itu kita harus selalu mencantumkan interval kontur pada peta hasil copy-an itu.

g. Legenda Peta/Keterangan Peta

Pada setiap lembar peta topografi yang lengkap, biasanya pada bagian bawah terdapat legenda peta.

  • Legenda tersebut meliputi:
  1. Indeks peta, seperti nomor peta
  2. Besar deklinasi, arah utara peta, dsb

Keterangan-keterangan lain seperti garis kontur, jalan sungai, desa, batas daerah, titik triangulasi, titik ketinggian, dsb.

Perlu diketahui ada juga Peta Topografi (biasanya keluaran Dinas Topografi Belanda) yang sering kita gunakan tidak ada legendanya. Beberapa legenda/keterangan peta yang umum kita temui, antara lain :

Titik Triangulasi = P 158

2260

P = Pengukuran Primer, ada juga yang sekunder (S), tersier (T)

dan Quarter (Q)

158 = Nomor registrasi titik tersebut.

2260 = Ketingggian titik tersebut dari permukaan laut

Jalan raya, jalan desa, stapak dsb.

  • Kontur dan Ketinggian pada Peta

Garis Kontur/Garis Ketinggian

Garis kontur adalah gari khayal yang berbelok-belok dan merupakan kurva tertutup, menghubungkan titik-titik/tempat yang mempunyai ketinggian yang sama.

Ketinggian tersebut diukur dari ketinggian dari permukaan air laut relatif. Garis kontur dapat tidak berupa kurva tertutup karena keterbatasan besarnya peta.

Sifat-sifat garis kontur:

Satu garis kontur mewakili satu ketinggian

Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi kontur berharga lebih tinggi.

Garis kontur tidak saling berpotongan dan tidak bercabang.

Interval/selang kontur adalah 1/2000 dikalikan skala peta, dinyatakan dalam meter. Rumus diatas tidak berlaku jika pada legenda/ keterangan peta ada keterangan peta yang menyatakan besarnya harga interval kontur (biasanya peta yang diperbesar atau diperkecil).

Garis kontur setiap kelipatan 10 biasanya ditandai dengan garis yang tebal, kecuali untuk peta AMS, garis tebal setiap kelipatan empat. (indeks kontur)

Rangkaian garis kontur yang rapat menandakan/menggambarkan permukaan bumi yang curam, sebaliknya yang renggang menandakan permukaan bumi yang landai.

Rangkaian garis kontur yang berbentuk “U”, pada ujung yang melengkung menandakan/menggambarkan suatu punggungan gunung

Rangkaian garis kontur yang berbentuk “V”, pada ujung yang tajam menandakan/menggambarkan suatu lembah

Rangkaian garis kontur yang makin berharga tinggi makin rapat menandakan/menggambarkan permukaan bumi yang cekung.

Rangkaian garis kontur yang makin berharga tinggi makin renggang menandakan/menggambarkan permukaan bumi yang cembung.

Rangkaian garis kontur yang melingkar/menutup salah satu batas peta menunjukan suatu bukit/gunung.

Garis kontur yang bergerigi menunjukan suatu depresi (daerah rendah), gerigi menunjukan depresi tersebut.

Garis kontur yang terputus-putus adalah garis kontur bantuan yang mempunyai ketinggian yang sama dengan garis kontur di dekatnya.

Ketinggian

Ketinggian sebenarnya

Ketinggian yang diukur dari permukaan air laut relatif/rata-rata

Misalnya: ketinggian Gunung Gede 2958 mdpl

Ketinggian nisbi

Ketinggian yang diukur dari dasar benda yang diukur

Misalnya: ketinggian gedung Blok B DKI 100 m